karya : Rahmania Fadilah
Hari yang cerah. Matahari bersinar begitu ceria menyambut
semangatku untuk memulai kegiatan dipagi hari. Jam dinding sudah menunjukkan
pukul 05.00, aku pun bergegas mengambil handuk dan segera mandi.
“jebrettt.......” suara pintu kamar mandi yang aku tutup
dengan kencang.
“Rahma, nutup pintunya yang bener jangan asal main nutup”
omel ibuku.
“iya bu, soalnya aku lagi buru-buru takut telat kesekolah”
jawabku dengan suara keras.
Setelah
mandi aku langsung menuju kemeja makan utuk sarapan pagi bersama ibu dan
kakakku (sudah berpakaian rapi dengan baju pramuka yang seperti biasa kupakai
setiap hari Jumat dan Sabtu).
“bu, aku pamit berangkat dulu ya..” sambil mengulurkan
tangan.
“lho kok makanannya ngga dihabisin, sayang kan udah dibuat
ngga dimakan jadinya mubazir” jawab ibuku.
“iya maaf bu, makanannya disimpen aja
biar entar dimakan lagi sepulang
sekolah” jawabku sambil jalan cepat dan mengambil tas yang berada dikamar.
“ya.. hati-hati dijalan, jangan lupa berdoa” ucap ibuku.
“ Assalamu’alaikum” jawabku.
“wa’alaikum salam. Jawab ibu dengan tersenyum.
Langkah kakiku dengan cepat menuju
kejalan raya yang tidak jauh dari rumah. Setelah sampai dijalan raya aku
menunggu bis yang setiap hari mengantarkanku sampai didepan sekolah.
Jam
berputar cepat pukul 06.45, aku masih menunggu bis yang belum muncul-muncul.
Aku sangat cemas takut terlambat sampai disekolah. Tak lama kemudian bis
muncul, aku segera menyetop dan langsung naik.
Akhirnya,
aku sampai didepan sekolah. Ternyata bel berbunyi “teeetttttt” menandakan sudah waktunya masuk kekelas. Aku langsung
lari dengan cepat terengos-engos menuju
kelasku yang berada dilantai dua.
Sampai didepan kelas aku disambut teman-teman yang begitu
baik padaku (balasku dengan senyuman). Aku pun langsung duduk disebelah temanku
yang bernama Isna. Dia temanku dari kelas VII, anaknya memang baik tapi kadang
suka jahil. Walaupun begitu, aku tetap senang beteman dengannya. Selain dia
baik dia juga cantik. Aku pun dimatanya baik meski aku cerewet.
“Assalamu’alaikum” datang guru kekelasku. Aku pun langsung
mengeluarkan buku dari dalam tasku. Dan langsung membukannya. KBM pun
berlangsung terasa sangat cepat, “teettt’” bel pulang berbunyi.
“pengumuman pengumuman!! Dalam rangka hari benas setelah UAS,
dua minggu kedepan sekolah diliburkan. Jadi semua siswa dapat belajar dirumah
masing-masing” pengumuman dari salah satu guru.
“yeeeeee, “ sorak serentak anak-anak semua karena merasa
senang.
Aku
turun dari kelasku dan langsung pulang kerumah.
“Assalamu’alaikum” aku masuk kedalam rumah.
“Wa’alaikum salam nak, sayang ganti baju dulu terus makan
bareng” aku melihat papa yang duduk dimeja makan bersama mama dan kakak yang
sedang menungguku .
“iya mama” aku bergegas kekamar dan langsung ganti baju.
Setelah
itu aku menuju ke ruang makan dan langsung duduk. Aku merasa sangat senang
dengan kebersamaan diruang makan seprti ini. Karena, saat berkumpul pasti ada
canda dan tawa yang biasa terasakan.
Tak
terasa hari mulai malam, matahari berganti menjadi bulan dan ditemani ratusan
bahkan ribuan bintang yang bersinar terang walaupu tak secerah matahari yang
setia menemani tidurku.
“kukuruyukkk”
bunyi jago yang menandakan terbitnya fajar. Aku terbangun dari tidurku,
kurapikan bantal dan guling beserta selimut.
Seperti biasanya saat hari libur aku dan teman-teman tetangga
jogging- jogging ketempat yang indah,
sejuk dan ramai jika hari libur. Tempat ini tidak jauh dari rumahku, mungkin
hanya 10menit aku dapat sampai ketempat ini. Persawahan yang terhampar luas dan
terlihat gunung yang menjulang tinggi menghiasi keindahan alam.
Aku, Lutfi dan Tia berjalan menuju tempat itu “tap tappp”
bunyi kakiku yang berlari pelan. Tak terhitung lamanya waktu, aku dan
teman-temanku pun sampai ditempat tujuan kami. Disana sudah banyak
orang-orang, baik anak kecil, remaja
ataupun dewasa bermain dengan kembang apinya. Anak-anak ditempatku pun sudah gasik berada disana.
“dor dorrrr, pretttt..., cetukkk” suara berbagai jenis
kembang api. Walaupun berbahaya, tapi aku sangat suka melihatnya. Aku dan
teman-temanku duduk ditrotoar pinggir jalan sambil disibukkan dengan hp
masing-masing. “tiiiiitttttt” suara klakson
motor anak muda. Aku ngga tau siapa dia, terus kenapa dia menlakson
kearahku padahal aku tidak berada di tengah-tengah jalan.
“lutfii....” panggil anak muda itu
kesalah satu temanku.
“iya, ada apa??” jawab lutfi dengan muka agak malu.
“kok loe ada didisini?? Emangnya rumah loe dimana??”
“ya kalo aku disini terus masalah gitu buat loe!! Hmm... ya
ngga dibawa, kepo loe!!” jawab lutfi
“ya ngga masalah, aku cuma tanya aja. Lah kalo pengin tau
masa ngga boleh” jawab Sofi.
Aku berbisik-bisik dengan Tia “itu sih siapa ya..??” tanyaku.
“itu Khoerul Isrofi alias Sofi, emangnya kenapa??” jawabnya.
“ooh, ngga kenapa cuma tanya doang. Itu temen sekelas kamu
apa??”
“bukan, dia kakak
kelasku. Katanya sih dia itu suka sama lutfi, tapi ngga tau bener apa ngga
soalnya lutfi kan suka bohong jadi aku kurang percaya”
“hhmmm... yaya bener juga kamu, tapi sudahlah kita ngga usah seuzon dulu, barangkali dia memang bener ngomong sama
kita” jawabku datar.
Pertemuan
singkat itu membuat aku tau siapa anak muda itu, ternyata dia kakak kelas temanku.
Mulai pertama aku kenal dia, aku ngga tau seperti ada rasa suka dengannya.
Tapi, yang aku tau dia itu suka dengan temanku jadi aku dan Tia berusaha
menjadi makcomblang mereka.
Pertemuan
yang berapa kali terjadi di tempat yang sangat sejuk itu membuat aku lebih tau
ada apa antara Lutfi dan Sofi.
“dimana koh rumahmu??” tanya Sofi ke
Lutfi
“itu disana lho, pokoknya yang jauh
dari sini lahh..” aku menengahi antara Lutfi dan Sofi sambil menunjuk arah
barat.
Aku
yang kepo ingin tau bertanya-tanya kepada Lutfi yang
menjauh dari Sofi.
“Fi, kamu sih apa betul pernah
ditembak oleh Sofi dan kamu ngga menerimanya??” tanyaku.
“iya, memang aku pernah ditembak
tapi aku ngga nrima dia. Ya.. walaupun dia itu orangnya baik tapi setau aku dia
itu suka merokok dan mabok jadi aku ngga tertarik padanya” jawab Lutfi sedetail mungkin.
“ooh, gitu yahh” jawabku.
Berapa
hari menjadi makcomblang antara Sofi dan Lutfi,tetap saja mereka ngga
bersatu-satu. Lutfi lebih memilih Alven pacarnya saat ini yang tadinya mau
diputusin ,tapi ngga jadi.
Siang begitu cepat berganti malam, aku keluar
rumah dan duduk-duduk dengan Tia didepan rumahnya.
“Rahma, ada yang minta nomor HP. Boleh ngga??” tanya Tia.
“emangnya siapa yang minta?? Buat
apa..”
“itu Sofi sama kedua temannya (Tio
dan Imam). Ya.. katanya sih buat
smsan
tapi ngga tau juga tuh buat apa lagi. Apa diantara mereka ada yang suka kamu
mungkin??”
“ooh, ya udah kasih aja. Hmm.. masa
sihh!!”
Setelah dikasihkannya nomorku ke Sofi dan kedua temannya lalu
banyak yang sms ke nomorku. “grrrrrrtttt” getaran hpku jika ada sms. Ternyata itu
sms dari Sofi. Awalnya memang sms biasa saja, tapi 1hari kemudian dia sms ya...
layaknya seperti orang pacaran. “kamu mau ngga jadi pacarku??” tanyannya di
sms. Aku pun bingung mau menjawab apa karena yang setau aku dia suka sama Lutfi
bukan aku. Katanya sih dia sudah ngga suka lagi sama Lutfi dan sekarang dia
jatuh cinta padaku. Aku memang pertama-tama ragu kalau dia suka sama aku, tapi
dengan smsnya yang begitu romantis membuat aku lebih tertarik padanya. “hhmm...
aku mau jadi pacar kamu, asalkan kamu mau mengulangi ucapan tadi didepan aku
secara langsung” jawabku disms. Dengan jawaban yang menyakinkan dari dia, aku
pun jadian.
Keesokkan harinya, seperti biasa aku dan kedua temannku JJP ke tempat yang biasa kudatangi.
Disana aku bertemu Sofi yang sudah menjadi pacarku, entah kenapa aku merasa
tegang, malu dan pokoknya perasaanku campur aduk saat bertemu dia. Mungkinkah
ini yang dinamakan cinta?? Entahlah.
Sudah beberapa hari aku pacaran dengannya, aku merasa
tertekan dengan sikap dia yang melarang – larang dan suka mengatur aku tapi aku
tetap bertahan untuk mengubah sifat-sifatnya yang jelek.
“kamu
udah dibilangin tapi tetep aja ngeyel main ke rumah temen!! Ooh, kaya gitu ngga mau nurut sama aku ya udah”
katanya di telepon.
“hmm..
iya maaf, tapi kan temen aku lagi butuh aku. Masa aku ngga dateng ya kan
kasihan, aku bingung harus gimana?? Jadi aku putusin untuk dateng kerumahnya”
kata aku dengan rasa sedih dan bingung.
1 hari kemudian, aku dan Lutfi jalan-jalan sore dengan
pacar masing-masing. Aku dengan Sofi dan Lutfi dengan Alven. Aku, Lutfi, Sofi
dan Alven jalan-jalan bareng dengan menggunakan sepeda motor.
“Fi,
kita mau kemana?? Ke danau ,tempat air terjun atau kemana??..”
“Tau
deh, aku juga bingung mau kemana. Ya udah ikutin aja aku sama Alven” jawab
Lutfi dengan kencang.
“hmm...
yaya. Kalian jangan jangan cepet-cepet
yahh”
Setelah
berputar mengelilingi daerah Ajibarang kita balik kearah timur, menuju Air
terjun. Karena jarak yang cukup jauh kesana dan kita dihadang hujan. Jadi aku
memutuskan putar balik ketempat awal yaitu di tempat yang biasa banyak
anak-anak kumpul. “titttttttt” bunyi klakson
motor temanku.
Temanku yang bernama Ana mengajakku ke Stasiun KA yang
ada di karang tengah. Aku bingung karena aku sedang bersama Sofi, jadi aku
mengajaknya sekalian. Tapi, entah kenapa dia tidak mau ikut bersamaku.
“pleaseeee,
ikut yaaa??” Lutfi yang memohon-mohon kepada Sofi.
Sofi tetap diam, cuek dan dia malah ninggalin aku. Aku
yang udah berusaha membujuknya merasa kecewa, apalagi ditambah kepergian dia
aku jadi merasa kesal padanya. Aku bingung,
galau harus bagaimana , apakah aku
harus meminta maaf padanya?? Entahlah, tapi aku merasa tidak salah dengan semua
ini.
Setelah Sofi pergi, aku pun pergi ke stasiun dengan
Ana dan Lutfi yang bersama Alven.
“Rahma,
Sofi gimana?? Kayanya dia marah dehh..” tanya Ana.
“ya
ngga salah lagi dia kan emang orangnya gitu, udah biarin aja. Mungkin ini yang
dinamakan konflik dari suatu percintaan, jadi aku harus sabar” jawabku pelan
dan menahan tangis.
“ooh,
iya kamu yang sabar ya. Dia sms kamu ngga??”
“iya,
makasih. Engga, biarin aja lah aku mah ngga bakal sms dulu biar dia aja yang
sms duluan supaya dia merasa bersalah”
Malam
hari sepulang dari stasiun Sofi sms aku dan dia menanyakan kepadaku tentang
kejadian yang tadi sore. Aku yang kesal dengan perlakuannya tetap cuek dan
membalas singkat sms dainya. Dan akhirnya, dia pun merasa bersalah dengan apa
yang dilakukannya.
Akupun memaafkan walaupun belum bisa sepenuhnya. Tapi
dengan syarat dia tidak akan mengulanginya kembali.
Waktu
yang cepat mengubah malam menjadi pagi. Aku pun cepat-cepat merapikan buku yang
masih berantakan karena semalem tidak belajar dan hari ini mulai pertama aku
berangkat sekolah lagi sehabis liburan yang cukup lama.
Sepulang sekolah aku bertemu dengan Ana dan dia
bercerita kepadaku. Kata Ana dia melihat Sofi sedang bersama mantan pacarnya
dan katanya sofi balikan lagi sama Yuni mantan pacarnya tanpa sepengetahuanku.
Aku
yang tau itu, langsung kesal, marah dan langsung sms ke Sofi.
Aku menanyakan semua itu apakah benar atau tidak.
Tapi, dari banyaknya sms yang aku kirim ke dia ngga ada jawaban sama sekali.
Setelah dua harinya, baru ada balasan dan dia sms seperti biasa yang merasa tidak
bersalah, padahal jelas-jelas banyak yang liat dia sedang bersama mantanya.
“maksudnya
apa kamu sama Yuni?? to the point aja
lah..” tanyaku lewat sms kepada Sofi.
“maksud
apa gimana?? Aku ngga tau yang kamu maksud sayang”
jawabnya. Aku yang ngga tau harus gimana lagi memutuskan kalau hubungan kita
berakhir sampai disini saja , karena aku tidak kuat dengan perlakuannya.
Hubunganku hanya berjalan 11 hari saja, mungkin dengan keputusan ini aku akan
lebih baik dan perasaanku tidak dimainkan ataupun disakiti olehnya lagi. Dan
semoga saja ini terakhir kali aku
merasakan sakit karena sakitnya tuh disini (didalam hati).









No comments:
Post a Comment