Thursday, January 29, 2015

Cerpen "Sakitnya Tuh Disini"


SAKITNYA TUH DISINI
karya : Rahmania Fadilah

Hari yang cerah. Matahari bersinar begitu ceria menyambut semangatku untuk memulai kegiatan dipagi hari. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 05.00, aku pun bergegas mengambil handuk dan segera mandi.
“jebrettt.......” suara pintu kamar mandi yang aku tutup dengan kencang.
“Rahma, nutup pintunya yang bener jangan asal main nutup” omel ibuku.
“iya bu, soalnya aku lagi buru-buru takut telat kesekolah” jawabku dengan suara keras.
Setelah mandi aku langsung menuju kemeja makan utuk sarapan pagi bersama ibu dan kakakku (sudah berpakaian rapi dengan baju pramuka yang seperti biasa kupakai setiap hari Jumat dan Sabtu).
“bu, aku pamit berangkat dulu ya..” sambil mengulurkan tangan.
“lho kok makanannya ngga dihabisin, sayang kan udah dibuat ngga dimakan jadinya mubazir” jawab ibuku.
“iya maaf bu, makanannya disimpen aja biar entar dimakan lagi  sepulang sekolah” jawabku sambil jalan cepat dan mengambil tas yang berada dikamar.
“ya.. hati-hati dijalan, jangan lupa berdoa” ucap ibuku.
“ Assalamu’alaikum” jawabku.
“wa’alaikum salam. Jawab ibu dengan tersenyum.
            Langkah kakiku dengan cepat menuju kejalan raya yang tidak jauh dari rumah. Setelah sampai dijalan raya aku menunggu bis yang setiap hari mengantarkanku sampai didepan sekolah.
Jam berputar cepat pukul 06.45, aku masih menunggu bis yang belum muncul-muncul. Aku sangat cemas takut terlambat sampai disekolah. Tak lama kemudian bis muncul, aku segera menyetop dan langsung naik.
Akhirnya, aku sampai didepan sekolah. Ternyata bel berbunyi “teeetttttt”  menandakan sudah waktunya masuk kekelas. Aku langsung lari dengan cepat terengos-engos menuju kelasku yang berada dilantai dua.
Sampai didepan kelas aku disambut teman-teman yang begitu baik padaku (balasku dengan senyuman). Aku pun langsung duduk disebelah temanku yang bernama Isna. Dia temanku dari kelas VII, anaknya memang baik tapi kadang suka jahil. Walaupun begitu, aku tetap senang beteman dengannya. Selain dia baik dia juga cantik. Aku pun dimatanya baik meski aku cerewet.
“Assalamu’alaikum” datang guru kekelasku. Aku pun langsung mengeluarkan buku dari dalam tasku. Dan langsung membukannya. KBM pun berlangsung terasa sangat cepat, “teettt’” bel pulang berbunyi.
“pengumuman pengumuman!! Dalam rangka hari benas setelah UAS, dua minggu kedepan sekolah diliburkan. Jadi semua siswa dapat belajar dirumah masing-masing” pengumuman dari salah satu guru.
“yeeeeee, “ sorak serentak anak-anak semua karena merasa senang.
Aku turun dari kelasku dan langsung pulang kerumah.
“Assalamu’alaikum” aku masuk kedalam rumah.
“Wa’alaikum salam nak, sayang ganti baju dulu terus makan bareng” aku melihat papa yang duduk dimeja makan bersama mama dan kakak yang sedang menungguku .
“iya mama” aku bergegas kekamar dan langsung ganti baju.
Setelah itu aku menuju ke ruang makan dan langsung duduk. Aku merasa sangat senang dengan kebersamaan diruang makan seprti ini. Karena, saat berkumpul pasti ada canda dan tawa yang biasa terasakan.
Tak terasa hari mulai malam, matahari berganti menjadi bulan dan ditemani ratusan bahkan ribuan bintang yang bersinar terang walaupu tak secerah matahari yang setia menemani tidurku.
“kukuruyukkk” bunyi jago yang menandakan terbitnya fajar. Aku terbangun dari tidurku, kurapikan bantal dan guling beserta selimut.
Seperti biasanya saat hari libur aku dan teman-teman tetangga jogging- jogging ketempat yang indah, sejuk dan ramai jika hari libur. Tempat ini tidak jauh dari rumahku, mungkin hanya 10menit aku dapat sampai ketempat ini. Persawahan yang terhampar luas dan terlihat gunung yang menjulang tinggi menghiasi keindahan alam.
Aku, Lutfi dan Tia berjalan menuju tempat itu “tap tappp” bunyi kakiku yang berlari pelan. Tak terhitung lamanya waktu, aku dan teman-temanku pun sampai ditempat tujuan kami. Disana sudah banyak orang-orang,  baik anak kecil, remaja ataupun dewasa bermain dengan kembang apinya. Anak-anak ditempatku pun sudah gasik berada disana.
“dor dorrrr, pretttt..., cetukkk” suara berbagai jenis kembang api. Walaupun berbahaya, tapi aku sangat suka melihatnya. Aku dan teman-temanku duduk ditrotoar pinggir jalan sambil disibukkan dengan hp masing-masing. “tiiiiitttttt” suara klakson motor anak muda. Aku ngga tau siapa dia, terus kenapa dia menlakson kearahku padahal aku tidak berada di tengah-tengah jalan.
“lutfii....” panggil anak muda itu kesalah satu temanku.
“iya, ada apa??” jawab lutfi dengan muka agak malu.
“kok loe ada didisini?? Emangnya rumah loe dimana??”
“ya kalo aku disini terus masalah gitu buat loe!! Hmm... ya ngga dibawa, kepo loe!!” jawab lutfi
“ya ngga masalah, aku cuma tanya aja. Lah kalo pengin tau masa ngga boleh” jawab Sofi.
Aku berbisik-bisik dengan Tia “itu sih siapa ya..??” tanyaku. “itu Khoerul Isrofi alias Sofi, emangnya kenapa??” jawabnya.
“ooh, ngga kenapa cuma tanya doang. Itu temen sekelas kamu apa??”
 “bukan, dia kakak kelasku. Katanya sih dia itu suka sama lutfi, tapi ngga tau bener apa ngga soalnya lutfi kan suka bohong jadi aku kurang percaya”
“hhmmm... yaya bener juga kamu, tapi sudahlah kita ngga usah seuzon  dulu, barangkali dia memang bener ngomong sama kita” jawabku datar.
Pertemuan singkat itu membuat aku tau siapa anak  muda itu, ternyata dia kakak kelas temanku. Mulai pertama aku kenal dia, aku ngga tau seperti ada rasa suka dengannya. Tapi, yang aku tau dia itu suka dengan temanku jadi aku dan Tia berusaha menjadi makcomblang mereka.
Pertemuan yang berapa kali terjadi di tempat yang sangat sejuk itu membuat aku lebih tau ada apa antara Lutfi dan Sofi.
            “dimana koh rumahmu??” tanya Sofi ke Lutfi
            “itu disana lho, pokoknya yang jauh dari sini lahh..” aku menengahi antara Lutfi dan Sofi sambil menunjuk arah barat.
Aku yang kepo  ingin tau bertanya-tanya kepada Lutfi yang menjauh dari Sofi.
            “Fi, kamu sih apa betul pernah ditembak oleh Sofi dan kamu ngga menerimanya??” tanyaku.
            “iya, memang aku pernah ditembak tapi aku ngga nrima dia. Ya.. walaupun dia itu orangnya baik tapi setau aku dia itu suka merokok dan mabok jadi aku ngga tertarik padanya” jawab Lutfi sedetail mungkin.
            “ooh, gitu yahh” jawabku.
Berapa hari menjadi makcomblang antara Sofi dan Lutfi,tetap saja mereka ngga bersatu-satu. Lutfi lebih memilih Alven pacarnya saat ini yang tadinya mau diputusin ,tapi ngga jadi.
 Siang begitu cepat berganti malam, aku keluar rumah dan duduk-duduk dengan Tia didepan rumahnya.
            “Rahma, ada yang minta nomor HP. Boleh ngga??” tanya Tia.
            “emangnya siapa yang minta?? Buat apa..”
            “itu Sofi sama kedua temannya (Tio dan Imam). Ya.. katanya sih buat
smsan tapi ngga tau juga tuh buat apa lagi. Apa diantara mereka ada yang suka kamu mungkin??”
            “ooh, ya udah kasih aja. Hmm.. masa sihh!!”
Setelah dikasihkannya nomorku ke Sofi dan kedua temannya lalu banyak yang sms ke nomorku. “grrrrrrtttt” getaran hpku jika ada sms. Ternyata itu sms dari Sofi. Awalnya memang sms biasa saja, tapi 1hari kemudian dia sms ya... layaknya seperti orang pacaran. “kamu mau ngga jadi pacarku??” tanyannya di sms. Aku pun bingung mau menjawab apa karena yang setau aku dia suka sama Lutfi bukan aku. Katanya sih dia sudah ngga suka lagi sama Lutfi dan sekarang dia jatuh cinta padaku. Aku memang pertama-tama ragu kalau dia suka sama aku, tapi dengan smsnya yang begitu romantis membuat aku lebih tertarik padanya. “hhmm... aku mau jadi pacar kamu, asalkan kamu mau mengulangi ucapan tadi didepan aku secara langsung” jawabku disms. Dengan jawaban yang menyakinkan dari dia, aku pun jadian.
Keesokkan harinya, seperti biasa aku dan kedua temannku JJP ke tempat yang biasa kudatangi. Disana aku bertemu Sofi yang sudah menjadi pacarku, entah kenapa aku merasa tegang, malu dan pokoknya perasaanku campur aduk saat bertemu dia. Mungkinkah ini yang dinamakan cinta?? Entahlah.
Sudah beberapa hari aku pacaran dengannya, aku merasa tertekan dengan sikap dia yang melarang – larang dan suka mengatur aku tapi aku tetap bertahan untuk mengubah sifat-sifatnya yang jelek.
            “kamu udah dibilangin tapi tetep aja ngeyel main ke rumah temen!! Ooh,  kaya gitu ngga mau nurut sama aku ya udah” katanya di telepon.
            “hmm.. iya maaf, tapi kan temen aku lagi butuh aku. Masa aku ngga dateng ya kan kasihan, aku bingung harus gimana?? Jadi aku putusin untuk dateng kerumahnya” kata aku dengan rasa sedih dan bingung.
1 hari kemudian, aku dan Lutfi jalan-jalan sore dengan pacar masing-masing. Aku dengan Sofi dan Lutfi dengan Alven. Aku, Lutfi, Sofi dan Alven jalan-jalan bareng dengan menggunakan sepeda motor.
            “Fi, kita mau kemana?? Ke danau ,tempat air terjun atau kemana??..”
            “Tau deh, aku juga bingung mau kemana. Ya udah ikutin aja aku sama Alven” jawab Lutfi dengan kencang.
            “hmm... yaya. Kalian jangan  jangan cepet-cepet yahh”
            Setelah berputar mengelilingi daerah Ajibarang kita balik kearah timur, menuju Air terjun. Karena jarak yang cukup jauh kesana dan kita dihadang hujan. Jadi aku memutuskan putar balik ketempat awal yaitu di tempat yang biasa banyak anak-anak kumpul. “titttttttt” bunyi klakson motor temanku.
Temanku yang bernama Ana mengajakku ke Stasiun KA yang ada di karang tengah. Aku bingung karena aku sedang bersama Sofi, jadi aku mengajaknya sekalian. Tapi, entah kenapa dia tidak mau ikut bersamaku.
            “pleaseeee, ikut yaaa??” Lutfi yang memohon-mohon kepada Sofi.
Sofi tetap diam, cuek dan dia malah ninggalin aku. Aku yang udah berusaha membujuknya merasa kecewa, apalagi ditambah kepergian dia aku jadi merasa kesal padanya. Aku bingung, galau  harus bagaimana , apakah aku harus meminta maaf padanya?? Entahlah, tapi aku merasa tidak salah dengan semua ini.
Setelah Sofi pergi, aku pun pergi ke stasiun dengan Ana dan Lutfi yang bersama Alven.   
            “Rahma, Sofi gimana?? Kayanya dia marah dehh..” tanya Ana.
            “ya ngga salah lagi dia kan emang orangnya gitu, udah biarin aja. Mungkin ini yang dinamakan konflik dari suatu percintaan, jadi aku harus sabar” jawabku pelan dan menahan tangis.
            “ooh, iya kamu yang sabar ya. Dia sms kamu ngga??”
            “iya, makasih. Engga, biarin aja lah aku mah ngga bakal sms dulu biar dia aja yang sms duluan supaya dia merasa bersalah”
            Malam hari sepulang dari stasiun Sofi sms aku dan dia menanyakan kepadaku tentang kejadian yang tadi sore. Aku yang kesal dengan perlakuannya tetap cuek dan membalas singkat sms dainya. Dan akhirnya, dia pun merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya.
Akupun memaafkan walaupun belum bisa sepenuhnya. Tapi dengan syarat dia tidak akan mengulanginya kembali.
            Waktu yang cepat mengubah malam menjadi pagi. Aku pun cepat-cepat merapikan buku yang masih berantakan karena semalem tidak belajar dan hari ini mulai pertama aku berangkat sekolah lagi sehabis liburan yang cukup lama.
Sepulang sekolah aku bertemu dengan Ana dan dia bercerita kepadaku. Kata Ana dia melihat Sofi sedang bersama mantan pacarnya dan katanya sofi balikan lagi sama Yuni mantan pacarnya tanpa sepengetahuanku.
            Aku yang tau itu, langsung kesal, marah dan langsung sms ke Sofi.
Aku menanyakan semua itu apakah benar atau tidak. Tapi, dari banyaknya sms yang aku kirim ke dia ngga ada jawaban sama sekali. Setelah dua harinya, baru ada balasan dan dia sms seperti biasa yang merasa tidak bersalah, padahal jelas-jelas banyak yang liat dia sedang bersama mantanya.
            “maksudnya apa kamu sama Yuni?? to the point aja lah..” tanyaku lewat sms kepada Sofi.
            “maksud apa gimana?? Aku ngga tau yang kamu maksud sayang” jawabnya. Aku yang ngga tau harus gimana lagi memutuskan kalau hubungan kita berakhir sampai disini saja , karena aku tidak kuat dengan perlakuannya. Hubunganku hanya berjalan 11 hari saja, mungkin dengan keputusan ini aku akan lebih baik dan perasaanku tidak dimainkan ataupun disakiti olehnya lagi. Dan semoga saja ini terakhir  kali aku merasakan sakit karena sakitnya tuh disini (didalam hati).


           
                                                                                                                       












No comments:

Post a Comment