MENGAPA KAU MENGAMBILNYA?
Karya: Adinda Dwi Rosiana
Ulangan Kenaikan Kelas
sudah berakhir. Sekarang seluruh siswa SMPN 1 Ajibarang disibukkan oleh acara
class meeting yang diadakan oleh pengurus OSIS SMPN 1 Ajibarang. Adinda
contohnya, aku adalah siswi kelas VIIF yang juga disibukkan oleh acara yang
satu ini. Acara class meeting ini dimeriahkan oleh berbagai macam lomba antara
lain futsal, paduan suara,musikalisasi puisi, dll. Acara class meeting ini
sangat menyenangkan sekaligus bisa membuat orang gemas melihatnya. Sudah dua
hari acara class meeting ini diadakan, sekarang adalah hari terakhir
diadakannya acara tersebut, selanjutnya besok adalah hari penentuan dimana kita
harus tinggal kelas atau naik kelas. Dalam hal ini, aku merasakan hal yang bisa
jadi dirasakan oleh seluruh siswa yang menerima raport. Yaitu 2 perasaan yang
campur aduk. Merasa senang karena setelah ini kita diberi waktu selama tiga
minggu untuk liburan dan juga aku merasa takut kalau kita tidak naik kelas kita pastinya akan malu kan
atau engga paling akan dimarahi sama
orang tua kita habis-habisan. Rasa-rasanya ini adalah penentuan hidup dan
matinya aku. Hari yang di tunggu-tunggu pun datang, seluruh wali siswa diminta
untuk datang mengambil raport karena raport tidak boleh di ambil oleh siswa itu
sendiri. Setelah hasil belajar selama satu tahun pelajaran di umumkan, aku
merasa kecewa karena nilai yang diumumkan sama pak Hartana tidak sesuai dengan
keinginanku. Ya, pak Hartana adalah wali kelas VII F yang sangat aku cintai
ini.
“Sudahlah, menyesali
sesuatu yang sudah terjadi itu akan sia-sia. Aku syukuri
saja apa yang ada toh masih mending aku naik ke kelas VIII dari pada menanggung malu yang tidak dapat
ditutupi ini”. Ucapku dalam hati.
Pembagian kelas dilakukan
satu minggu sebelum aku masuk. Ahhh.., aku berharap aku berada di kelas bawah
yang sudah menjadi impianku. Akhirnya setelah 2 minggu liburan, aku berangkat
sekolah untuk mendaftar ulang dan untuk pembagian kelas. Tetapi, dalam
perjalananku ke sekolah aku melihat teman sekolahku dulu sedang merokok.
Sungguh miris hatiku ini melihat hal semacam itu. Setelah sampainya aku di
sekolah, aku melihat teman-temanku yang sedang berdesak-desakan di depan papan
pengumuman. Aku pun langsung menghampiri mereka. Aku pun langsung ikut
berdesak-desakan untuk melihat dimana kelas VIII ku sekarang. Alhamdulillah,
akhirnya aku berada di kelas bawah. Ya, rasa senang ku ini tak terbendung
ketika melihat namaku di deretan kelas VIII B. Tapi aku sedih karena aku tidak
sekelas dengan sahabatku, Putri. Tak apa, toh juga aku dan Putri masih satu sekolah.
Berbeda dengan Ara, salah satu sahabat kami yang pindah sekolah karena orang
tuanya pindah ke luar kota.
Salah satu temanku datang
menghampiriku dan bertanya di kelas apa sekarang aku ini. Ya. Anika adalah
salah satu teman sekelasku sekarang. Setelah bercakap-cakap lumayan lama dengan
Anika, suara yang tak asing pun terdengar di telinga kami. Itu adalah suara
yang berasal dari kantor guru. Setelah mendengar pengumuman tersebut, aku dan
Anika pun langsung menuju ke kelas VIIIB. Dan sekarang Anika adalah teman
sebangku ku di kelas VIII B.
Hari pertama aku menjadi
anak kelas VIII, seperti kelas 7 dulu rasanya terasa asing bagiku di kelas
baruku ini. Teman-teman yang berbeda, guru berbeda rasanya aku seperti anak
baru saja. Hari demi hari ku isi dengan hal yang baru. Dan sekarang aku sudah
punya 2 sahabat baru yang sangat baik kepadaku. Selalu ada di sisiku suka
maupun duka. 2 sahabat ku ini adalah Nindya dan frida. Suatu hari, ibuku sering
sakit-sakitan entah apa sebabnya. walau sudah 2 kali ibuku berobat, keaadannya
tetap sama saja engga ada perubahan. Alasan yang diberikan oleh dokter sama
saja. “ibu engga papa kok, istirahat aja beberapa hari ini”. Kata dokter yang
memeriksa ibuku. Walau begitu, aku masih tetap saja cemas menghawatirkan
keaadan ibuku yang keadaannya masih tetap saja sama.
“Ibu, ayo kita kedokter
lagi aja ya?, nanti jadi tambah parah lho kalau tidak dibawa ke dokter.”tanyaku
ke ibuku.
“Engga lah, Din. Ibu
engga papa kok. Cuma pusing sama sakit perut doang kok. Besok juga pasti sembuh,
lagian obat yang dari dokter sama dari PMI juga masih ada.”jawab ibuku dengan
enteng.
“obat yang dari dokter
dan PMI sudah jangan diminum lagi, percuma saja kalau diminum obatnya, ibu juga
gak ada perubahannya selama minum obat ini”. Perintah ku pada ibuku.
“Iya iya...Dinda. lagian
besok juga kakakmu akan pulang. Nanti ibu akan ke dokter bersama kak Lidha.”
Jawab ibuku menghapus kekhawatiranku.
Ternyata benar besoknya
kak Lidha memang pulang. kak Lidha adalah satu-satunya kakakku yang paling aku
sayang. Semenjak kak Lidha lulus SMP, kak Lidha memang jarang dirumah karena
dia bersekolah di salah satu SMA di Purwokerto jadi dia nge-kos di sana. Dan
selah lulus dari SMA, kak Lidha melanjutkan kuliah di Salah satu universitas di
Solo.
Ayahku mengajakku dan ibuku
untuk ikut menjemput kak Lidha di stasiun kereta api sekalian pergi ke acara
lauching mobil di salah satu delear di Purwokerto. Kami memang sering di undang
untuk menghadiri acara tersebut, memang ayahku itu adalah pengguna kendaraan
yag sangat setia. Kami terlebih dahulu menjemput kak Lidha karena kereta
sebentar lagi akan tiba. Sambil menunggu kereta, aku ngobrol sebentar dengan
saudaraku yang kebetulan keluarga mereka juga di undang dalam acara yang sama
dengan ku.
“Din, kamu udah tahu belum,
denger-denger Kak Triana itu tadi sore kecelakaan?”tanya Isna kepadaku.
“Ha,?kecelakaan?
dimana?parah ga?”tanyaku agak cemas.
“Iya, katanya sih di
karang lewas deket pasar, gak tau tuh aku
cuma dengernya segitu doang”jawab Isna sambil minum jus alpokat kesukaannya.
Tak terasa kereta yang
dinaiki kakakku pun sudah tiba. Akupun disuruh untuk mencari kakakku itu.
Lumayan lama aku mencari-cari kakakku akhirnya ketemu juga. Aku agak kecewa
setelah melihat kakakku tak membawa barang yang aku inginkan. Aku pun melambai-lambaikan
tanganku supaya kakakku melihat aku.
“Dari mana aja sih, Din.
Dicari-cari malah gak ketemu-temu”tanya kakakku agak marah karena lama
menunggu.
“Kakak tu yang dari mana,
aku udah cape nih cari-cari kakak.”jawabku dengan sedikit ngambek.
“Kakak ya dari tadi
disini aja. Sudah ahh..ehh kamu sama siapa?”tanya kakakku padaku.
“sama ayah, ibu, budhe,
Isna, dan Khilma”jawabku pada kak Lidha.
“Kak, kakak ga bawa
pesenanku sih?”tanyaku sambil melihat-lihat barang bawaan kak Lidha.
“Engga, Din, kakak lupa.
Maaf ya.. lain kali kakak ga lupa lagi deh.
Itu yang ikut rame amat.
Emang ada acara apa?”tanya kak Lidha dengan rasa penasarannya.
“ya udah deh, tapi janji
ya!.
itu tu, biasa.., ayah
diundang ke acara launching mobil.”jawabku
“Oh.. berarti makan-makan
nih, asyikk..”jawab kakakku dengan senangnya.
“Udah ah, ayo kita pergi.
Nanti keburu diomelin sama ibu.”ucapku dambil membatu kak Lidha membawa
bawaannya.
Setelah sudah sampai di
mobil, ternyata kami sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang yang ada di dalam
mobil bermerk kijang inova ini. Setelah semuanya sudah siap kami langsung
menuju tujuan utama kami. Di dalam mobil aku pun bertanya kepada ibuku apa yang
tadi di ceritakan oleh Isna.
“Bu, apa tadi sore kak
Triana kecelakaan?” tanyaku pada ibuku.
“Iya, Din. Tapi ga papa
kok cuma srempetan sama motor lain”jawab ibuku dengan tenangnya.
Aku sedikit bingung,
kenapa ayahku berhenti di depan klinik dokter kandungan, setelah ibuku turun,
aku sedikit mengira mungkin ibu mau pasang KB. Tapi setelah ibuku naik mobil
lagi, kakakku pun bertanya pada ibuku, bagaimana hasil pemeriksaannya. Dan yang
tambah aku bingung lagi, ibu memberikan 2 buah foto kepada kakakku. Tenyata
foto itu adalah hasil USG ibuku. Yang paling mengejutkan lagi, foto itu adalah
foto janin yang ada di dalam perut ibuku. Wah sebuah kejutan yang sangat
berkesan bagiku. Ternyata ibuku selama ini sering sakit karena hamil. Aku pun
senang karena sebentar lagi punya adik kecil yang selama ini aku inginkan. Tapi
setelah dipikir-pikir, kalau aku mempunyai adik, nanti aku sudah tidak disayang
lagi. Rasa cemas pun muncul pada diriku.
“Dinda, Lidha, kalian
sebentar lagi mau punya adik nih”ucap budheku pada kami berdua.
“asik-asik sebentar lagi
punya sepupu baru nih”ucap Isna dengan senangnya.
“tuh, kan bu.. Omongan
aku terbukti. Coba aja dari dulu ibu itu langsung ke dokter kandungan” ucap kak
Lidha dengan bersemangatnya.
“lah ibu kira ini Cuma
sakit biasa. Kan gejalanya juga sama kaya orang sakit lainnya. ya kita syukuri
saja kamu punya adik lagi.”ucap ibuku sambil menunjukkan foto tadi pada ayahku.
Tak terasa kita sudah
sampai di depan hotel tersebut. acaranya sepertinya sudah dimulai kami pun
langsung masuk dan menikmati makan malam. Kulihat ibuku mual-mual mulu ketika
makan, jadi ibu akhirnya hanya hanya bisa duduk dan melihat saja orang-orang
yang sedang menyantap makan malam mereka.
Pagi harinya, aku
langsung bercerita sama teman sebangkuku, Anika.
Apa yang aku dengar tadi malam aku
ceritakan kembali pada Anika. Anika pun juga merasakan hal yang sama denganku.
Dia turut senang atas kehamilan ibukku. Aku juga memberi tahu sahabatku Putri,
Frida, dan Nindya. Mereka juga memberikan reaksi yang sama.
Setelah aku mengetahui
ibuku hamil aku harus lebih berbaik hati pada ibuku. Hari demi hari kulakukan
dengan membantu pekerjaan ibuku supaya ibuku tidak terlalu kecapean.
Ada suatu peristiwa yang mengejutkan terjadi saat aku sedang les di salah satu
bimbel di Purwokerto. Ironisnya, aku tidak diberi tahu kalau ibuku keguguran.
Tahu-tahu nyampe dirumah sudah banyak orang yang berada dirumahku. Salau satu
kerabatku menghampiriku dan dia bilang.
“Dinda,
kamu ga jadi punya adik kecil. Ga papa yah”.
Aku pun bingung dengan perkataan
kerabatku itu. Sepertinya tidak mungkin. Baru saja aku mengetahui ibuku hamil
10 hari yang lalu. Tapi sekarang aku mengetahui dede bayi sudah ga ada?. Akupun
menemui dan bertanya langsung kepada ibuku yang sedang terbaring tidur setelah
dikiret. Dan memang benar, tetapi aku masih belum percaya ini. Aku berusaha
untuk menerimanya dengan tabah dan ikhlas.
10
hari yang lalu aku memberitahu teman-teman dekatku bahwa ibuku hamil dan
sebentar lagi aku akan mempunyai adik kecil yang sangat lucu. Dan sekarang aku
memberi tahu kepada mereka kabar bahwa ibuku keguguran. Reaksi mereka pun
berubah dari senang menjadi sedih, begitu juga denganku.
Aku
pun selalu mendoakan adikku yang malang itu, sempat aku berfikir kenapa Allah
mengambil adikku dengan cepat. Kami bahkan baru mengetahui 10 hari yang lalu,
kenapa Engkau mengambinya dari kami?kalimat itu yang sering aku pikirkan.
*TAMAT*