Sunday, February 8, 2015

Cerpen "Kesederhanaan Seorang Teman"

Kesederhanaan Seorang Teman
Karya: Aziz Budi Santoso
               Namaku Aziz, umurku 14 tahun. Aku anak laki-laki. Aku anak pertama dari 3 bersaudara. Aku sekarang bersekolah di SMP N 1 Ajibarang, yang termasuk Sekolah favorit di daerahku. Awal saya masuk Sekolah dijadikan hanya untuk perkenalan. Salah satu teman yang aku sudah kenal ternyata memiliki kesederhanaan yang luar biasa. Namanya Doni, dia juga laki-laki. Dia memakai sepatu yang sepertinya bekas kakaknya ataupun diberi oleh tetangganya.
               Bel istirahatpun berbunyi. Tetapi saya malah mengobrol dengan Doni si anak yang mempunyai kesederhanaan itu.
               “Hai, kamu sih anak mana ?” tanyaku.
Tetapi dia tidak mau menjawab.
               Bel pulang pun berbunyi, tetapi aku tidak langsung bergegas pulang. Karena aku menunggu teman dulu yang arah pulangnya sama, yang bernama Erik. Lagi-lagi aku melihat Doni, sepertinya dia rumahnya dekat, karena dia pulang dengan jalan kaki. Aku berpikir dalam hati. “Mengapa yah dia berpenampilan sederhana, apa alasannya ?” pikiranku semakin membuat aku penasaran saja. Akhirnya Erik temanku pulang juga, kita berdua pulang bersama-sama. Karena rumah kami terbilang cukup jauh, kami pulang mengendarai Bus.
               Tak lama kemudian kami duduk di bangku Bus. Seperti biasa, ada pengamen yang bernyanyi di dalam Bus. Aku memberikan uang recehan kepada pengamen itu, sekitar 500 rupiah. Bus pun melaju, tetapi aku masih memikirkan temannku Doni. Kemudian aku bertanya kepada temanku Erik. “Rik, kamu kenal ngga sama Doni, yang memiliki kesederhanaan itu ?” dia pun menjawab “Oh anak itu, yang memiliki kesederhanaan, ya aku kenal.” Kemudian aku bertanya lagi. “Kamu tahu ngga alasannya Doni berpenampilan sederhana ?” Erik pun menjawab. “Mungkin karena ekonomi keluarganya yang kurang atau kenapa, entah lah aku juga tidak mengerti.”
               Mendengar jawaban Erik, aku berpikir ada benarnya juga alasan Erik. Kami pun sampai ditempat tujuan, rumah kami berdekatan. Erik lebih dulu masuk kerumahnya, karena rumahku lebih jauh sedikit. Aku pun melangkah demi langkah menuju rumahku, waktu sudah sore, aku langsung mandi dan seperti biasa aku melaksanakan kewajibanku yaitu Shalat Maghrib. Sesudah melakukan kewajibanku, aku langsung makan dengan lahapnya, tetapi aku terpikir pada Doni. “Apakah dia sudah makan, ekonomi keluarganya pun terbilang susah.”
               Sesudah makan aku melanjutkan dengan belajar, selanjutnya saya bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Kemudian saya melakukan Shalat Isya, setelah itu saya menonton Televisi terlebih dahulu. Seperti biasa saya hanya menonton berita olahraga khususnya sepak bola karena saya suka sekali dengan olahraga itu. Setelah beberapa menit saya langsung menuju kamar tidurku, karena saya sangat lelah saya langsung tidur dengan nyenyak.
               Tidak disadari ternyata hari sudah pagi, matahari menunjukan manfaatnya. Saya langsung bergegas menuju kamar mandi dan tidak lupa mengambil air wudlu. Setelah berkemas-kemas saya langsung berangkat sekolah bersama Erik. Setelah sampai disekolah kulihat Doni dengan penampilannya yang pasti sederhana. Bel pulangpun berbunyi saya masih penasaran dengan Doni, akhirnya saya mengikuti sampai kerumah Doni. Kulihat Ibunya sedang menggendong adik Doni, dan ayahnya sedang membuat keajinan tangan.
               “Don, ternyata rumahmu disini ?” tanyaku.
               “Eh Aziz, kamu kesini ngapain ?” jawabnya.
               “Karena aku penasaran jadi aku mengikutimu.”
               “Ya beginilah kehidupanku Ziz, ekonomi keluargaku terbatas.”
Melihat adik Doni yang sedang menangis di pangkuan Ibunya, hatiku terketuk untuk memberikan barang berharga ataupun uang.
               “Don, ini aku ada uang mungkin bisa menambah kebutuhanmu sehari-hari.”
               “Ngga usah Ziz, ngga usah.”
               “Udah ini diterima saja, itung-itung aku bersedekah.”
               “Terima kasih ya Ziz, aku sangat senang berteman denganmu.” Jawab Doni.
Kemudian saya pun berpamitan kepada orang tua Doni, karena saya akan berkemas untuk pulang.
               Rasa penasaranku pun berubah menjadi pengalaman yang luar biasa. Aku sangat senang karena aku bisa bermanfaat bagi orang lain. Sesudah itupun pertemanan kami terjalin dengan sangat erat dan saya sering memberikan sedekah kepada Doni ataupun keluarganya.

                

No comments:

Post a Comment