Kesederhanaan Seorang Teman
Karya: Aziz Budi Santoso
Namaku Aziz, umurku 14 tahun. Aku
anak laki-laki. Aku anak pertama dari 3 bersaudara. Aku sekarang bersekolah di
SMP N 1 Ajibarang, yang termasuk Sekolah favorit di daerahku. Awal saya masuk
Sekolah dijadikan hanya untuk perkenalan. Salah satu teman yang aku sudah kenal
ternyata memiliki kesederhanaan yang luar biasa. Namanya Doni, dia juga
laki-laki. Dia memakai sepatu yang sepertinya bekas kakaknya ataupun diberi
oleh tetangganya.
Bel istirahatpun berbunyi. Tetapi
saya malah mengobrol dengan Doni si anak yang mempunyai kesederhanaan itu.
“Hai, kamu sih anak mana ?”
tanyaku.
Tetapi
dia tidak mau menjawab.
Bel pulang pun berbunyi, tetapi
aku tidak langsung bergegas pulang. Karena aku menunggu teman dulu yang arah
pulangnya sama, yang bernama Erik. Lagi-lagi aku melihat Doni, sepertinya dia
rumahnya dekat, karena dia pulang dengan jalan kaki. Aku berpikir dalam hati.
“Mengapa yah dia berpenampilan sederhana, apa alasannya ?” pikiranku semakin
membuat aku penasaran saja. Akhirnya Erik temanku pulang juga, kita berdua
pulang bersama-sama. Karena rumah kami terbilang cukup jauh, kami pulang
mengendarai Bus.
Tak lama kemudian kami duduk di
bangku Bus. Seperti biasa, ada pengamen yang bernyanyi di dalam Bus. Aku
memberikan uang recehan kepada pengamen itu, sekitar 500 rupiah. Bus pun
melaju, tetapi aku masih memikirkan temannku Doni. Kemudian aku bertanya kepada
temanku Erik. “Rik, kamu kenal ngga sama Doni, yang memiliki kesederhanaan itu
?” dia pun menjawab “Oh anak itu, yang memiliki kesederhanaan, ya aku kenal.”
Kemudian aku bertanya lagi. “Kamu tahu ngga alasannya Doni berpenampilan
sederhana ?” Erik pun menjawab. “Mungkin karena ekonomi keluarganya yang kurang
atau kenapa, entah lah aku juga tidak mengerti.”
Mendengar jawaban Erik, aku
berpikir ada benarnya juga alasan Erik. Kami pun sampai ditempat tujuan, rumah
kami berdekatan. Erik lebih dulu masuk kerumahnya, karena rumahku lebih jauh
sedikit. Aku pun melangkah demi langkah menuju rumahku, waktu sudah sore, aku
langsung mandi dan seperti biasa aku melaksanakan kewajibanku yaitu Shalat
Maghrib. Sesudah melakukan kewajibanku, aku langsung makan dengan lahapnya,
tetapi aku terpikir pada Doni. “Apakah dia sudah makan, ekonomi keluarganya pun
terbilang susah.”
Sesudah makan aku melanjutkan
dengan belajar, selanjutnya saya bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air
wudlu. Kemudian saya melakukan Shalat Isya, setelah itu saya menonton Televisi
terlebih dahulu. Seperti biasa saya hanya menonton berita olahraga khususnya
sepak bola karena saya suka sekali dengan olahraga itu. Setelah beberapa menit
saya langsung menuju kamar tidurku, karena saya sangat lelah saya langsung
tidur dengan nyenyak.
Tidak disadari ternyata hari
sudah pagi, matahari menunjukan manfaatnya. Saya langsung bergegas menuju kamar
mandi dan tidak lupa mengambil air wudlu. Setelah berkemas-kemas saya langsung
berangkat sekolah bersama Erik. Setelah sampai disekolah kulihat Doni dengan
penampilannya yang pasti sederhana. Bel pulangpun berbunyi saya masih penasaran
dengan Doni, akhirnya saya mengikuti sampai kerumah Doni. Kulihat Ibunya sedang
menggendong adik Doni, dan ayahnya sedang membuat keajinan tangan.
“Don, ternyata rumahmu disini ?”
tanyaku.
“Eh Aziz, kamu kesini ngapain ?”
jawabnya.
“Karena aku penasaran jadi aku
mengikutimu.”
“Ya beginilah kehidupanku Ziz,
ekonomi keluargaku terbatas.”
Melihat
adik Doni yang sedang menangis di pangkuan Ibunya, hatiku terketuk untuk memberikan
barang berharga ataupun uang.
“Don, ini aku ada uang mungkin
bisa menambah kebutuhanmu sehari-hari.”
“Ngga usah Ziz, ngga usah.”
“Udah ini diterima saja,
itung-itung aku bersedekah.”
“Terima kasih ya Ziz, aku sangat
senang berteman denganmu.” Jawab Doni.
Kemudian
saya pun berpamitan kepada orang tua Doni, karena saya akan berkemas untuk
pulang.
Rasa penasaranku pun berubah
menjadi pengalaman yang luar biasa. Aku sangat senang karena aku bisa
bermanfaat bagi orang lain. Sesudah itupun pertemanan kami terjalin dengan
sangat erat dan saya sering memberikan sedekah kepada Doni ataupun keluarganya.
No comments:
Post a Comment