Sunday, February 8, 2015

Cerpen "Mengapa Kau Mengambilnya"

MENGAPA KAU MENGAMBILNYA?
Karya: Adinda Dwi Rosiana
Ulangan Kenaikan Kelas sudah berakhir. Sekarang seluruh siswa SMPN 1 Ajibarang disibukkan oleh acara class meeting yang diadakan oleh pengurus OSIS SMPN 1 Ajibarang. Adinda contohnya, aku adalah siswi kelas VIIF yang juga disibukkan oleh acara yang satu ini. Acara class meeting ini dimeriahkan oleh berbagai macam lomba antara lain futsal, paduan suara,musikalisasi puisi, dll. Acara class meeting ini sangat menyenangkan sekaligus bisa membuat orang gemas melihatnya. Sudah dua hari acara class meeting ini diadakan, sekarang adalah hari terakhir diadakannya acara tersebut, selanjutnya besok adalah hari penentuan dimana kita harus tinggal kelas atau naik kelas. Dalam hal ini, aku merasakan hal yang bisa jadi dirasakan oleh seluruh siswa yang menerima raport. Yaitu 2 perasaan yang campur aduk. Merasa senang karena setelah ini kita diberi waktu selama tiga minggu untuk liburan dan juga aku merasa takut kalau kita  tidak naik kelas kita pastinya akan malu kan atau engga paling akan dimarahi  sama orang tua kita habis-habisan. Rasa-rasanya ini adalah penentuan hidup dan matinya aku. Hari yang di tunggu-tunggu pun datang, seluruh wali siswa diminta untuk datang mengambil raport karena raport tidak boleh di ambil oleh siswa itu sendiri. Setelah hasil belajar selama satu tahun pelajaran di umumkan, aku merasa kecewa karena nilai yang diumumkan sama pak Hartana tidak sesuai dengan keinginanku. Ya, pak Hartana adalah wali kelas VII F yang sangat aku cintai ini.
“Sudahlah, menyesali sesuatu yang sudah terjadi itu akan sia-sia. Aku                      syukuri saja apa yang ada toh masih mending aku naik ke kelas VIII dari           pada menanggung malu yang tidak dapat ditutupi ini”. Ucapku dalam hati.
Pembagian kelas dilakukan satu minggu sebelum aku masuk. Ahhh.., aku berharap aku berada di kelas bawah yang sudah menjadi impianku. Akhirnya setelah 2 minggu liburan, aku berangkat sekolah untuk mendaftar ulang dan untuk pembagian kelas. Tetapi, dalam perjalananku ke sekolah aku melihat teman sekolahku dulu sedang merokok. Sungguh miris hatiku ini melihat hal semacam itu. Setelah sampainya aku di sekolah, aku melihat teman-temanku yang sedang berdesak-desakan di depan papan pengumuman. Aku pun langsung menghampiri mereka. Aku pun langsung ikut berdesak-desakan untuk melihat dimana kelas VIII ku sekarang. Alhamdulillah, akhirnya aku berada di kelas bawah. Ya, rasa senang ku ini tak terbendung ketika melihat namaku di deretan kelas VIII B. Tapi aku sedih karena aku tidak sekelas dengan sahabatku, Putri. Tak apa, toh juga aku dan Putri masih satu sekolah. Berbeda dengan Ara, salah satu sahabat kami yang pindah sekolah karena orang tuanya pindah ke luar kota.
Salah satu temanku datang menghampiriku dan bertanya di kelas apa sekarang aku ini. Ya. Anika adalah salah satu teman sekelasku sekarang. Setelah bercakap-cakap lumayan lama dengan Anika, suara yang tak asing pun terdengar di telinga kami. Itu adalah suara yang berasal dari kantor guru. Setelah mendengar pengumuman tersebut, aku dan Anika pun langsung menuju ke kelas VIIIB. Dan sekarang Anika adalah teman sebangku ku di kelas VIII B.
Hari pertama aku menjadi anak kelas VIII, seperti kelas 7 dulu rasanya terasa asing bagiku di kelas baruku ini. Teman-teman yang berbeda, guru berbeda rasanya aku seperti anak baru saja. Hari demi hari ku isi dengan hal yang baru. Dan sekarang aku sudah punya 2 sahabat baru yang sangat baik kepadaku. Selalu ada di sisiku suka maupun duka. 2 sahabat ku ini adalah Nindya dan frida. Suatu hari, ibuku sering sakit-sakitan entah apa sebabnya. walau sudah 2 kali ibuku berobat, keaadannya tetap sama saja engga ada perubahan. Alasan yang diberikan oleh dokter sama saja. “ibu engga papa kok, istirahat aja beberapa hari ini”. Kata dokter yang memeriksa ibuku. Walau begitu, aku masih tetap saja cemas menghawatirkan keaadan ibuku yang keadaannya masih tetap saja sama.
“Ibu, ayo kita kedokter lagi aja ya?, nanti jadi tambah parah lho kalau tidak dibawa ke dokter.”tanyaku ke ibuku.
“Engga lah, Din. Ibu engga papa kok. Cuma pusing sama sakit perut doang kok. Besok juga pasti sembuh, lagian obat yang dari dokter sama dari PMI juga masih ada.”jawab ibuku dengan enteng.
“obat yang dari dokter dan PMI sudah jangan diminum lagi, percuma saja kalau diminum obatnya, ibu juga gak ada perubahannya selama minum obat ini”. Perintah ku pada ibuku.
“Iya iya...Dinda. lagian besok juga kakakmu akan pulang. Nanti ibu akan ke dokter bersama kak Lidha.” Jawab ibuku menghapus kekhawatiranku.
Ternyata benar besoknya kak Lidha memang pulang. kak Lidha adalah satu-satunya kakakku yang paling aku sayang. Semenjak kak Lidha lulus SMP, kak Lidha memang jarang dirumah karena dia bersekolah di salah satu SMA di Purwokerto jadi dia nge-kos di sana. Dan selah lulus dari SMA, kak Lidha melanjutkan kuliah di Salah satu universitas di Solo.
Ayahku mengajakku dan ibuku untuk ikut menjemput kak Lidha di stasiun kereta api sekalian pergi ke acara lauching mobil di salah satu delear di Purwokerto. Kami memang sering di undang untuk menghadiri acara tersebut, memang ayahku itu adalah pengguna kendaraan yag sangat setia. Kami terlebih dahulu menjemput kak Lidha karena kereta sebentar lagi akan tiba. Sambil menunggu kereta, aku ngobrol sebentar dengan saudaraku yang kebetulan keluarga mereka juga di undang dalam acara yang sama dengan ku.
“Din, kamu udah tahu belum, denger-denger Kak Triana itu tadi sore kecelakaan?”tanya Isna kepadaku.
“Ha,?kecelakaan? dimana?parah ga?”tanyaku agak cemas.
“Iya, katanya sih di karang lewas deket pasar, gak tau tuh aku  cuma dengernya segitu doang”jawab Isna sambil minum jus alpokat kesukaannya.
Tak terasa kereta yang dinaiki kakakku pun sudah tiba. Akupun disuruh untuk mencari kakakku itu. Lumayan lama aku mencari-cari kakakku akhirnya ketemu juga. Aku agak kecewa setelah melihat kakakku tak membawa barang yang aku inginkan. Aku pun melambai-lambaikan tanganku supaya kakakku melihat aku.
“Dari mana aja sih, Din. Dicari-cari malah gak ketemu-temu”tanya kakakku agak marah karena lama menunggu.
“Kakak tu yang dari mana, aku udah cape nih cari-cari kakak.”jawabku dengan sedikit ngambek.
“Kakak ya dari tadi disini aja. Sudah ahh..ehh kamu sama siapa?”tanya kakakku padaku.
“sama ayah, ibu, budhe, Isna, dan Khilma”jawabku pada kak Lidha.
“Kak, kakak ga bawa pesenanku sih?”tanyaku sambil melihat-lihat barang   bawaan kak Lidha.
“Engga, Din, kakak lupa. Maaf ya.. lain kali kakak ga lupa lagi deh.
Itu yang ikut rame amat. Emang ada acara apa?”tanya kak Lidha dengan rasa penasarannya.
“ya udah deh, tapi janji ya!.
itu tu, biasa.., ayah diundang ke acara launching mobil.”jawabku
“Oh.. berarti makan-makan nih, asyikk..”jawab kakakku dengan senangnya.
“Udah ah, ayo kita pergi. Nanti keburu diomelin sama ibu.”ucapku dambil membatu kak Lidha membawa bawaannya.
Setelah sudah sampai di mobil, ternyata kami sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang yang ada di dalam mobil bermerk kijang inova ini. Setelah semuanya sudah siap kami langsung menuju tujuan utama kami. Di dalam mobil aku pun bertanya kepada ibuku apa yang tadi di ceritakan oleh Isna.
“Bu, apa tadi sore kak Triana kecelakaan?” tanyaku pada ibuku.
“Iya, Din. Tapi ga papa kok cuma srempetan sama motor lain”jawab ibuku dengan tenangnya.
Aku sedikit bingung, kenapa ayahku berhenti di depan klinik dokter kandungan, setelah ibuku turun, aku sedikit mengira mungkin ibu mau pasang KB. Tapi setelah ibuku naik mobil lagi, kakakku pun bertanya pada ibuku, bagaimana hasil pemeriksaannya. Dan yang tambah aku bingung lagi, ibu memberikan 2 buah foto kepada kakakku. Tenyata foto itu adalah hasil USG ibuku. Yang paling mengejutkan lagi, foto itu adalah foto janin yang ada di dalam perut ibuku. Wah sebuah kejutan yang sangat berkesan bagiku. Ternyata ibuku selama ini sering sakit karena hamil. Aku pun senang karena sebentar lagi punya adik kecil yang selama ini aku inginkan. Tapi setelah dipikir-pikir, kalau aku mempunyai adik, nanti aku sudah tidak disayang lagi. Rasa cemas pun muncul pada diriku.
“Dinda, Lidha, kalian sebentar lagi mau punya adik nih”ucap budheku pada kami berdua.
“asik-asik sebentar lagi punya sepupu baru nih”ucap Isna dengan senangnya.
“tuh, kan bu.. Omongan aku terbukti. Coba aja dari dulu ibu itu langsung ke dokter kandungan” ucap kak Lidha dengan bersemangatnya.
“lah ibu kira ini Cuma sakit biasa. Kan gejalanya juga sama kaya orang sakit lainnya. ya kita syukuri saja kamu punya adik lagi.”ucap ibuku sambil menunjukkan foto tadi pada ayahku.
Tak terasa kita sudah sampai di depan hotel tersebut. acaranya sepertinya sudah dimulai kami pun langsung masuk dan menikmati makan malam. Kulihat ibuku mual-mual mulu ketika makan, jadi ibu akhirnya hanya hanya bisa duduk dan melihat saja orang-orang yang sedang menyantap makan malam mereka.
Pagi harinya, aku langsung bercerita sama teman sebangkuku, Anika.
Apa yang aku dengar tadi malam aku ceritakan kembali pada Anika. Anika pun juga merasakan hal yang sama denganku. Dia turut senang atas kehamilan ibukku. Aku juga memberi tahu sahabatku Putri, Frida, dan Nindya. Mereka juga memberikan reaksi yang sama.
Setelah aku mengetahui ibuku hamil aku harus lebih berbaik hati pada ibuku. Hari demi hari kulakukan dengan membantu pekerjaan ibuku supaya ibuku tidak terlalu kecapean.
Ada  suatu peristiwa yang mengejutkan  terjadi saat aku sedang les di salah satu bimbel di Purwokerto. Ironisnya, aku tidak diberi tahu kalau ibuku keguguran. Tahu-tahu nyampe dirumah sudah banyak orang yang berada dirumahku. Salau satu kerabatku menghampiriku dan dia bilang.
            “Dinda, kamu ga jadi punya adik kecil. Ga papa yah”.
Aku pun bingung dengan perkataan kerabatku itu. Sepertinya tidak mungkin. Baru saja aku mengetahui ibuku hamil 10 hari yang lalu. Tapi sekarang aku mengetahui dede bayi sudah ga ada?. Akupun menemui dan bertanya langsung kepada ibuku yang sedang terbaring tidur setelah dikiret. Dan memang benar, tetapi aku masih belum percaya ini. Aku berusaha untuk menerimanya dengan tabah dan ikhlas.
            10 hari yang lalu aku memberitahu teman-teman dekatku bahwa ibuku hamil dan sebentar lagi aku akan mempunyai adik kecil yang sangat lucu. Dan sekarang aku memberi tahu kepada mereka kabar bahwa ibuku keguguran. Reaksi mereka pun berubah dari senang menjadi sedih, begitu juga denganku.
            Aku pun selalu mendoakan adikku yang malang itu, sempat aku berfikir kenapa Allah mengambil adikku dengan cepat. Kami bahkan baru mengetahui 10 hari yang lalu, kenapa Engkau mengambinya dari kami?kalimat itu yang sering aku pikirkan.
*TAMAT*











No comments:

Post a Comment