Sunday, February 8, 2015

Cerpen "Menantimu Adik"

Menantimu Adik
Karya: Putri Nur Baeti
Namaku Putri Nur Baeti. Biasa disapa dengan sebutan Putri. Tapi, oleh teman-teman jailku waktu SD dulu aku sering dipanggil Baet. Entah kenapa, mungkin karena nama baeti itu unik juga karena berarti rumah. Nama kok ya rumah?. Aku baru saja lulus dari Sekolah Dasar dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang murid SMP. Yeayy!! Udah nggak pake seragam merah putih lagi. Kalo masih pake seragam SD itu keliatan masih kaya anak kecil banget. Kalo udah pake seragam biru putih kan keliatan udah kaya Anak Baru Gede gitu.
          Aku anak ketiga dari tiga bersaudara . Tapi sebentar lagi gelar anak bungsu udah nggak aku sandang lagi, karena udah ada adik bayi diperut mama yang tinggal menghitung hari lagi akan terlahir didunia.
          Rasanya mau punya adik itu macem-macem. Seneng, sedih juga takut. Seneng karena sebentar lagi akan ada adik bayi yang lucu, rumah jadi rame. Walaupun aku 3 bersaudara, tapi rumahku sepi. Kakak pertamaku, kak Maulana sudah bekerja di Karawang. Kalo Kakak kedua, Kak Mizan sudah kelas 2 SMA. Namanya juga laki-laki, jarang dirumah. Kalo pulang seringnya sore hari. Sibuk sendiri sama pacar-pacarnya yang entah ada berapa itu. Mukanya lumayan okelah, kalo dilihat pake sedotan dari atas Monas. Hahaha, enggak ding becanda. Tapi menurutku sih biasa aja. Gak tau kenapa bisa punya banyak pacar. Kalo Bapakku, namanya juga kepala rumah tangga, tulang punggung keluarga, ya kerja. Jarang dirumah.
          “Putri, Putri bangun! Kayaknya mama mau lahiran tuh. Cepet bangun.” Panggil kak Mizan saat membangunkanku dari alam bawah sadarku.
          “Iya, iya Putri bangun, emang sekarang jam berapa kak?” Jawab dan tanyaku masih setengah sadar pada kakak.
          “Baru jam setengah 4 pagi. Mama lagi kesakitan tuh. Kayaknya mau lahirin adik bayi deh.” Kata kakakku.
          “Hah!! Yang bener ka?” seketika mataku terbuka lebar dan aku langsung bangkit dari tempat tidurku menuju kamar mama. Hatiku deg-degan tidak karuan, mengingat mama akan segera melahirkan adik bayi.
          “Ma, adik bayi mau lahir?” tanyaku ketika aku menghampiri mama yang sedang terbaring ditempat tidurnya.
          “Iya, sepertinya mama akan segera melahirkan, put.” Jawab mamaku dengan sedikit mengerang.
          “Bapak mana, ma? Kenapa tidak segera kerumah sakit, ma?” tanyaku lagi beruntun pada mama.
          “Bapak sedang kerumah Pakde untuk meminta mengantarkan mama kerumah sakit dengan mobilnya.” Terang dan jawab mama padaku.
          “Ma, mobil sudah siap. Ayo kita segera kerumah sakit, ma!” Bapak tibe-tiba datang dan mengajak mama untuk segera berangkat.
          “Putri, Mizan! Bapak berangkat dulu. Kalian jaga rumah.” Perintah Bapak sambil membantu mama masuk kedalam mobil dengan hati-hati.
          “Iya, Pak. Hati-hati dijalan.” Jawabku dan kakak serempak.
          Aku dan kakakku hanya bisa memandang mobil yang ditumpangi Bapak dan Mama perlahan meninggalkan pekarangan rumah dengan berharap semoga proses persalinan Mama berjalan lancar dan semoga adik bayi terlahir dengan selamat.
          Pagi harinya aku bingung. Hari ini adalah hari pertama pendaftaran siswa baru di SMP N 1 Ajibarang. Aku bingung akan pergi dengan siapa. Apa kak Mizan mau mengantarku ya?
          “Kak Mizan, kakak mau menemani aku mendaftar masuk SMP tidak?” tanyaku pada kakak yang baru saja selesai mandi.
          “Kakak nggak bisa. Kakak nggak tau put.” Tolak kakakku sembari masuk kedalam kamarnya.
          Terus aku harus pergi mendaftar masuk SMP dengan siapa? Bapak, Mama Putri harus bagaimana?.
          Akhirnya aku berangkat mendaftar masuk SMP dengan Bukde. Kami berangkat pukul 09.00 pagi. Dan pukul 11.00 kami sudah sampai dirumah.
          “Kak, apa ada kabar tentang Mama?” Tanyaku pada Kak Mizan yang sedang duduk didepan televisi.
          “Tadi Bapak telephone katanya adik bayi belum lahir juga.” Jawabnya padaku.
          Adik bayi belum lahir?  Mama belum juga melahirkan? Kenama lama sekali? Kenapa perasaanku nggak enak? Kenapa Ya Allah?.
          Yang bisa kulakukan sekarang adalah hanya menunggu kabar dari Bapak. Menunggu, menunggu dan terus menunggu sampai sore hari tiba. Ya Allah kenapa sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali dari Bapak tentang Mama.
          “Kak, kenapa belum ada kabar dari Bapak kak?” tanyaku dengan suara bergetar.
          “Kakak juga nggak tau. Bapak udah kakak coba hubungi tapi tidak aktif.” Jawab kak Mizan dengan cemas.
          “Terus gimana kak? Tanyaku akan menangis.
          “Udah, nggak usah nangis. Pakde sama Bukde juga lagi dirumah sakit. Sebentar lagi mereka pulang. Kita Tanya pada meraka saja nanti.” Jawab Kak Mizan.
                   Malam harinya belum juga ada kabar dari Bapak dan dia juga belum bisa dihubungi. Aku dan Kak Mizan sangat cemas menanti kabar dai Bapak. Apa adik bayi sudah lahir? Apa proses persalinan Mama berjalan demgan lancar? Mereka baik-baik saja kan? Pertanyaan demi pertanyaan saling berkecamuk dipikiranku dan Kakakku. Semoga tidak terjadi apa-apa.
          Akhirnya Aku dan Kak Mizan memutuskan untuk pergi kerumah Pakde untuk menanyakan bagaimana keadaan Mama dirumah sakit.
          “Pakde bagaimana keadaan Mama? Apa adik bayi sudah lahir?” Tanya Kak Mizan pada Pakde begitu kami sampai dirumah Pakde.
          “Mama kalian belum juga melahirkan. Tapi keadaan Mama kalian baik-baik saja. Kalian tenang saja, tidak usah khawatir. Kalian hanya  perlu berdoa agar adik kalian segera lahir dengan selamat.” Jelas Pakde padaku dan Kak Mizan yang sedang cemas.
          “Ya suadah kalau begitu. Mizan sama Putri pamit pulang Pakde. Kalau ada kabar dari Bapak, segera hubungi kami ya, Pakde! Terimakasih.” Salam Kak Mizan pada Pakde.
          Aku dan Kak Mizan pulang dengan perasaan tak menentu. Perasaan kami lega karena Mama baik-baik saja. Juga, kami merasa cemas kenapa adik bayi belum juga lahir?
          Aku dan Kak Mizan memutuskan untuk istirahat. Aku tidak juga bisa memejamkan mataku. Aku mencemaskan keadaan Mamaku. Aku tidak bisa tidur juga.
          “Ya Allah, semoga Mama baik-baik saja. Semoga proses persalinan mama berjalan dengan lancar. Semoga adik Bayi lahir dengan selamat. Kabulkan doaku Ya Allah, Amin.” Pelahan-lahan rasa kantuk mulai menyerangku. Mataku mulai tertutup dan nafasku mulai teratur. Aku sudah tertidur lelap. Berharap semoga saat bangun besok pagi mendapat kabar bahawa adik bayi sudah terlahir dengan selamat.
          Ayam jago berkokok. Sinar matahari mulai menyinariku dari celah-celah jendela kamarku. Aku mengerjapkan mataku perlahan. Menyesuaikan mataku dari sinar matahari. Tiba-tiba suara ponsel bordering dari atas meja disamping tempat tidurku. Aku segera bangkit dan meraihnya.
          “Halo, Putri sudah bangun?” Tanya seseorang diseberang telephone.
          “Putri baru bangun . Bapak bagaimana keadaan Mama? Adik bayi sudah lahir?” jawab dan tanyaku pada bapak ditelephone.
          “Keadaan Mama baik-baik saja. Kata dokter adik bayi insyaallah akan lahir nanti siang, put.” Terang Bapak.
          “Alhamdulillah. Syukur kalau begitu, Pak. Aku sama Kak Mizan khawatir dari kemarin tidak ada kabar.” Kataku
          “Kalian tidak uash khawatir. Kalian berdoa saja. Ya sudah dulu, put.” Pamit Bapakku.
          “Iya, pak. “ Aku segera keluar kamar dan mengatakan kalau adik bayi insyaallah akan terlahir nanti siang pada kak Mizan. Kakak sangat senang kuberi tahu kabar ini.
          Siang harinya aku akan membeli mie rebus diwarung. Saat tiba diwarung ada sekelompok ibu-ibu yang sepertinya sedang asyik membicarakan sesuatu.
          “Eh, Ibu Mar kan sedang dirumah sakit. Sedang melahirkan.” Kata ibu I.
          “Iya, bukannya mereka berangkat kerumah sakit kemarin pagi ya? Kok sampai sekarang belum ada kabar sih?” kata ibu II
          “Katanaya belum lahir juga anaknya.” Kata ibu III
          “Katanya saat tiba dirumah sakit Ibu Mar belum juga melahirkan sampai sekarang”  kata Ibu I
          “Bukannya kalau saat proses persalinan bayinya tidak keluar-keluar itu, berarti pada kesehariannya Ibu Mar itu tidak baik orangnya.”  Kata ibu II
          “Iya, sepertinya sih begitu.” Sahut Ibu III lagi
          Aku mendengarnya. Hei aku mendengar semuanya. Mama orangnya baik, tidak seperrti yang ibu-ibu itu bicarakan. Aku kembali pulang dengan menangis, tidak jadi pergi kewarung.
          Saat aku sampai dirumah ada Bukde yang melihatku pulang dengan air mata mengalir dipipi.
          “Putri, kamu kenapa menangis? Bukannya tadi pamit mau kewarung?” Tanya Bukde bingung.
          “Tadi saat sampai diwaarung ada ibu-ibu yang sedang membicarakan Mama, Bukde.” Jawabku sambil sesenggukan.
          “Memang mereka membicarakan Mama kamu tentang apa, Put?” Tanya Bukde lagi.
          “Mereka bilang kalau saat proses persalinan, bayinya lama tidak lahir berarti Mama itu tidak baik orangnya.” Jawabku lagi masih sesenggukan.
          “Sudah, jangan dengarkan apa kata mereka. Mereka hanya sedang bergosip. Sudah jangan menangis lagi.” Kata Bukde menenangkanku.
          Saat tepat pukul setengah 2 siang, Bapak mengabariku kalau adik bayi sudah terlahir dengan selamat. Proses persalinan Mama berjalan dengan lancar.
          Saat itu aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan bahagiaku. Aku dan Kak Mizan sangat bahagia dan sangat bersyukur.
          Kata Bapak adik bayi dan Mama baru boleh pulang kerumah besok. Aku menanti kedatangan mereka dengan tidak sabar. Aku dan Kak Mizan membersihkan rumah bersama-sama, dan merapikan kamar untuk adik bayi. Aku sudah tidak sabar menyambut anggota keluarga baru dirumah.

          Keesokan harinya, Mama dan adik bayi pulang kerumah. Aku menunggu mereka dengan de-degan dirumah. Karena aku akan melihat adik bayi yang lucu saat pertama kalinya. Mereka tiba, Adikku. Adikku yang aku nanti-nanti kehadirannya. Dengan jenis kelamin laki-laki dan berat badan 3,5 kg adikku sangat lucu dan tampan. Mata bulat, bibir mungil dan pipi yang sedikit chubby. Dia akan diberi nama ‘Hisyam Adnan’ yang berarti ‘penyantun salah satu nama surga’ Subhanaallah nama dengan arti yang sangat mulia. Adikku yang aku nanti-nantikan, aku sangat menyayangimu, dik.

No comments:

Post a Comment